Di sebuah kesempatan yang penuh makna di hadapan siswa MA DDI Attaufiq Padaelo, H. Karim, SH., MH. seorang praktisi hukum, pengusaha sebagai owner UBM, Bendahara Dewan Pendidikan Barru, sekaligus Ketua Yayasan Jabal Uhud menyampaikan motivasi singkat yang justru meninggalkan jejak panjang dalam kesadaran para pendengarnya. Ia tidak berbicara dengan retorika yang berlebihan, melainkan dengan kesederhanaan yang jujur, lahir dari pengalaman hidup yang ditempa oleh tantangan dan keberanian.
Ia membuka pesannya dengan satu pernyataan yang menggugah: bahwa untuk menjadi orang sukses, seseorang harus berani keluar dari zona nyaman. Zona nyaman, dalam pandangannya, bukan sekadar kondisi yang menyenangkan, tetapi sering kali menjadi jebakan halus yang membuat seseorang enggan berkembang. Banyak orang merasa cukup dengan apa yang dimiliki, merasa aman dengan rutinitas, padahal di balik itu semua tersimpan potensi besar yang belum tergali.
Menurutnya, keberanian keluar dari zona nyaman adalah titik awal perubahan. Ia menggambarkan bahwa setiap lompatan besar dalam hidup selalu diawali dengan ketidaknyamanan: rasa takut, keraguan, bahkan kegagalan. Namun justru di situlah proses pembentukan karakter terjadi. Orang yang berani meninggalkan kenyamanan akan menemukan ruang baru untuk tumbuh, belajar, dan menguji batas dirinya.
Namun, keberanian saja tidak cukup. H. Karim menekankan pentingnya membangun pola pikir sebagai pemenang. Ia menyampaikan bahwa sukses bukan hanya soal hasil, tetapi tentang cara berpikir. Orang yang memiliki mental pemenang akan selalu melihat peluang, bahkan di tengah keterbatasan. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, karena mereka percaya bahwa setiap tantangan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan.
Berpikir sebagai pemenang berarti memiliki keyakinan bahwa diri mampu mencapai tujuan, sekaligus kesiapan untuk bekerja keras dan konsisten. Mental ini tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui latihan, pengalaman, dan keteguhan hati. Dalam pandangannya, banyak orang yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi gagal karena tidak memiliki mindset yang tepat.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya ditentukan oleh usaha lahiriah, tetapi juga oleh kekuatan spiritual. Di sinilah ia menekankan pentingnya sadaqah. Ia menjelaskan bahwa memberi bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga merupakan kunci pembuka rezeki dan keberkahan. Sadaqah, menurutnya, memiliki kekuatan yang sering kali tidak dapat dijelaskan secara logika semata.
Ia mengibaratkan sadaqah sebagai investasi yang tidak pernah merugi. Apa yang diberikan dengan ikhlas akan kembali dalam bentuk yang lebih besar, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang sama. Sadaqah melatih keikhlasan, membersihkan hati, dan membuka jalan-jalan kemudahan yang sebelumnya tidak terlihat. Dalam perjalanan hidupnya, ia merasakan sendiri bagaimana memberi justru memperluas kesempatan dan memperkuat langkah menuju kesuksesan.
Selain itu, H. Karim juga menekankan pentingnya membangun relasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada orang sukses yang berjalan sendirian. Setiap keberhasilan selalu melibatkan orang lain, baik sebagai mitra, sahabat, maupun mentor. Oleh karena itu, kemampuan untuk menjalin hubungan yang baik menjadi sangat penting.
Relasi bukan hanya soal mengenal banyak orang, tetapi tentang membangun kepercayaan dan menjaga silaturahmi. Dari relasi yang baik akan lahir peluang-peluang baru, pertukaran ide, serta dukungan yang saling menguatkan. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, jaringan yang luas dan berkualitas menjadi salah satu aset utama dalam meraih keberhasilan.
Di akhir penyampaiannya, tersirat sebuah sintesis pemikiran yang sederhana namun mendalam: kesuksesan adalah hasil dari keberanian keluar dari zona nyaman, kekuatan pola pikir sebagai pemenang, keikhlasan dalam bersadaqah, serta kecerdasan dalam membangun relasi. Keempat hal ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan menguatkan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang instan, tetapi sebuah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan dan keseimbangan antara usaha lahir dan batin. Bagi para siswa yang mendengarkannya, motivasi singkat itu bukan sekadar nasihat, tetapi sebuah peta jalan sebuah arah yang, jika diikuti dengan konsisten, dapat mengantarkan mereka dari zona nyaman menuju zona juara.
Pekkae, 18 April 2026