admin pada NEWS
27 Mei 2026 22:05 - 4 menit reading

Haji dan Qurban Ujian Keimanan Menuju Keharibaan Ilahi


Oleh
Muh. Rasda Rais


Suatu kesyukuran pada pagi hari yang cerah karena langit tak mendung, Muhammad Rasda Rais salah satu muballigh Kabupaten Barru hadir memenuhi undangan Allah pada 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah untuk menyampaikan Khutbah Idul adha pada masjid Nurul Amin Desa Pancana Barru. Dalam khutbahnya mengurai dua point utama yang esensial di momen bulan Dzulhijjah.


Bulan Dzulhijjah dalam Tahun Hijriah menjadi bulan banyak hikmah dan renungan, didalamnya ditandai dua momen paling bersejarah dalam kehidupan ummat islam. Pertama, pada bulan Dzulhijjah Ummat islam diperintahkan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekah, Mengapa pelaksanaan ibadah haji harus ditunaikan di kota mekah ?, karena dalam bahasa arab kata “Mekah” bermaknah tempat keramaian dan tempat untuk menangis. Karena itulah ummat islam dari seluruh penjuru dunia setiap musim haji hadir memenuhi panggilan Allah dan meramaikan kota mekah sekaligus menumpahkan air matanya saat prosesi ibadah hajinya berlangsung. Allah berfirman dalam surah Al Hajj ayat 27 yang artinya “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh “.

Kedua, pada bulan Dzulhijjah, menjadi momen pelaksanaan Idul Adha atau Qurban. Dalam pandangan Fiqih, Qurban disebut dengan istilah Udhiyyah bermakna sembelihan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sembelihan juga bermakna menghilangkan sifat sifat tidak arif, misalnya dengan membuang rasa Ego, gampang menyalahkan orang lain, tidak mampu mengendalikan emosi yang bisa merusak tatanan silaturrahim.


Dalam khutbahnya yang disampaikan lewat mimbar masjid Nurul Amin Desa Pancana Barru, Dr. Muh. Rasda Rais, SP.,MP. alumni santri DDI Mangkoso dan DDI Pekkae, mengurai satu makna Qurban pada mimbar masjid, bahwa pelaksanaan Qurban yang disyariatkan berdasarkan atas syariat Nabi Ibrahim yang tersebut dalam hadits Imam At TURMUZI dan Al HAKIM, Rasulullah SAW bersabda “ Kultu Kalu ya Rasulallah mahadsihil idohi Qala sunnata Abikumum iberahim Qalu malana minha Qala bikulli sya’ratin hasanah “ yang artinya :
“Bertanya kepada Rasulullah apa artinya berqurban ? Rasulullah SAW bersabda Sunnahnya Bapakmu Nabi Ibrahim AS. Lalu bertanya kembali kepada nabi apa yang didapatkan didalamnya ? Nabi menjawab tiap tiap bulunya engkau mendapatkan satu kebaikan”.


Hadits ini memberikan makna mendalam karena memotomg satu hewan/ binatang Qurban bisa memperoleh banyak pahala disisi Allah. Nabi sengaja menyebut bulunya dengan mengambil satu unsur yang nilainya paling terendah atau paling kecil karena kehalusan dzatnya yang melekat pada hewan, hampir sulit dihitung jari berapa banyak jumlah bulu yang melekat pada setiap hewan Qurban/ binatang, tidak menyebut dagingnya yang nota bene nilainya paling tertinggi yang melekat pada hewan, Karena nabi ingin menunjukkan agar orang beriman dapat berfikir, bahwa berqurban sangatlah tinggi dan banyak nilai pahalanya disisi Allah. Bisa dibayangkan kalau seandainya seribu bulu yang ada pada hewan Qurban, maka seribu pula pahala yang diperoleh orang yang berqurban, mana lagi daging dan tulangnya.


Muh. Rasda Rais yang juga mantan pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Propinsi Sul Sel, yang saat ini juga merupakan pimpinan Nahdlatul Ulama Kabupaten Barru, lebih jauh mengurai bahwa dua hal penting tersebut di atas sangatlah bermaknah dalam kehidupan seseorang apabila benar benar diwujudkan sebagai pelaksanaan Syariat agama. Haji mengajarkan proses perjalanan panjang sebagai bentuk ritual mudik keharibaan ilahi, sebab dari seluruh rangkaian proses ibadahnya lebih banyak menggambarkan cerminan kematian seolah olah pada saat jutaan manusia wukuf di Padang Arafah sedang berada di padang Mahsyar.

Begitupun dengan berqurban sebenarnya simbol dari bentuk kepedulian sosial terhadap sesama manusia untuk mewujudnyatakan Silaturrahim dan tolong menolong. Kata Rasulullah “ Barangsiapa yang hendak dilapangkan Rezkinya hendaklah ia perbaiki silaturrahimnya dan barangsiapa yang hendak dipanjangkan usianya hendaklah ia memperbaiki silaturrahimnya “.


Muh. Rasda Rais yang merupakan dosen pada dua perguruan Tinggi negeri dan swasta, mengunci tulisan ini bahwa Silaturrahim dalam bahasa Ummul Qitab bermakna kasih sayang yang tersebut dalam suratul fatiha. Rasullullah menasehati kita untuk menebarkan kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh mahluk “ Orang yang menebar kasih sayang akan disayanagi oleh yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk Bumi, maka penduduk Langit akan menyayangimu “.


Muh. Rasda Rais :
Akademisi dan Pengurus Majelis Ulama Idonesia Kab. Barru serta Wankar KKDB