Herdiman Tabi pada Pemerintahan
21 Apr 2026 19:31 - 2 menit reading

Kartini dan Masa Kini: Andi Ina Kartika Sari Gaungkan Perempuan sebagai Penggerak Perubahan

BARRU AK77NEWS.COM– Tanggal 21 April selalu membawa ingatan kita pada R.A. Kartini. Namun lebih dari sekadar peringatan, hari ini adalah panggilan untuk bertanya: sudahkah nyala perjuangannya benar-benar menyala di dalam diri kita?

Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, meyakini jawabannya ada pada keberanian. Menurutnya, Kartini masa kini bukan perempuan yang menunggu pintu dibukakan, melainkan yang berani mengetuk, membuka, dan mengajak yang lain masuk bersama. “Di zaman yang serba mungkin ini, perempuan harus semakin kuat dan pantang menyerah. Ambil peran, isi ruang pembangunan, sekecil apa pun lininya. Di situlah kita memberi makna pada perjuangan Ibu Kartini,” tegasnya.

Hari ini kita menyaksikan bukti itu. Perempuan hadir sebagai pengambil keputusan, sebagai guru yang membentuk masa depan, sebagai pelaku usaha yang menggerakkan ekonomi, sebagai penjaga nilai di tengah keluarga dan masyarakat. Mereka bukan lagi bayangan di latar, tapi sosok utama yang menulis cerita perubahan—dari desa-desa di Barru hingga kota besar.

Tentu jalan belum sepenuhnya lapang. Masih ada sekat tak terlihat, stigma yang membelenggu, dan beban berlapis yang diam-diam menguji keteguhan. Justru karena itu, semangat Kartini tak boleh padam. Perjuangannya kini adalah memastikan pintu yang dulu ia buka tak pernah tertutup lagi, agar anak-anak perempuan setelah kita melangkah tanpa ragu.

Lebih dari seabad lalu, Kartini menyalakan obor di tengah gelap. Hari ini obor itu berpindah ke tangan kita. Ia hidup dalam guru yang tak lelah mengajar, dalam petani yang menjaga lumbung pangan, dalam pemimpin yang berani memutuskan, dalam ibu yang membesarkan generasi tangguh. Mereka memilih untuk terus melangkah, meski jalannya menanjak.

Maka Hari Kartini bukan perayaan yang usai dalam sehari. Ia adalah janji yang diperbarui setiap pagi: bahwa selama perempuan berani berkarya, berdaya, dan berdiri tanpa kehilangan jati diri, Kartini tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup—di Barru, di seluruh Indonesia, di setiap perempuan yang memilih untuk tidak menyerah. (syam)