MAKASSAR, AK77NEWS.COM — Di tengah khidmatnya Upacara Penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Halaman Kantor Gubernur Sulsel, Senin (17/8/2026), sosok santri perempuan dari Kabupaten Barru mencuri perhatian.
Ia adalah Syahraini, santri kelas XI MA Putri Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Santri Kelahiran Kabupaten Maros itu dipercaya mengemban tugas sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih pada upacara tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Dengan langkah tegap dan penuh keyakinan, Syahraini menjalankan amanah tersebut di hadapan Gubernur Sulawesi Selatan beserta para pejabat dan tamu undangan. Tugas itu menjadi pengalaman berharga sekaligus kebanggaan bagi dirinya, keluarga, serta keluarga besar MA Putri DDI Mangkoso.
Bagi Syahraini, menjadi pembawa baki bukan sekadar tugas dalam sebuah upacara. Di balik tugas tersebut terdapat perjuangan panjang, disiplin, doa, serta dukungan orang tua dan guru.
Melewati Seleksi Selama Tiga Bulan
Perjalanan Syahraini hingga dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tidaklah mudah. Ia harus mengikuti proses seleksi yang berlangsung sekitar tiga bulan.
Seleksi dimulai dari tingkat madrasah, kemudian berlanjut ke tingkat Kabupaten Barru hingga seleksi Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Persaingan yang ketat menuntut kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.
Syahraini mampu melewati setiap tahapan tersebut hingga akhirnya dipercaya menjadi pembawa baki bendera pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Provinsi Sulsel.
“Alhamdulillah, ini anugerah dan amanah yang luar biasa. Kami sangat bangga karena Syahraini mampu melewati proses seleksi dan dipercaya mengemban tugas tersebut,” ujar Herman Tabi, pembina sekaligus Kepala MA Putri DDI Mangkoso.
Di balik prestasinya sebagai anggota Paskibraka, Syahraini merupakan penghafal Al-Qur’an. Ia menjalani pendidikan agama dan pendidikan umum secara bersamaan di lingkungan Pondok Pesantren DDI Mangkoso.
Selain menghafal Al-Qur’an, Syahraini juga aktif dalam kegiatan Paskibra dan Pramuka, serta tercatat sebagai bagian dari kegiatan Santri Bela Negara.
Perpaduan pendidikan agama, kedisiplinan, dan kegiatan kebangsaan tersebut membentuk karakter Syahraini menjadi santri yang tidak hanya berprestasi secara akademik maupun keagamaan, tetapi juga memiliki semangat nasionalisme.
Menurut Herman, keberhasilan Syahraini menjadi pembawa baki bendera menunjukkan bahwa santri memiliki ruang yang luas untuk berprestasi di berbagai bidang.
“Ini membuktikan bahwa santri tidak hanya belajar agama. Mereka juga memiliki jiwa nasionalisme, disiplin, dan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan pesantren menanamkan nilai agama sekaligus kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan seperti upacara bendera, Paskibra, Pramuka, dan bela negara menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
Di balik prestasinya, Syahraini menyimpan cita-cita besar. Ia ingin mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan menjadi seorang prajurit TNI.
“Saya ingin mengabdi untuk bangsa dan negara. Saya ingin menjadi TNI. Saya percaya ilmu agama, ilmu umum, dan kedisiplinan yang saya dapatkan di pesantren bisa menjadi bekal untuk mewujudkan cita-cita,” tutur Syahraini.
Pengalaman menjadi pembawa baki bendera menjadi pelajaran penting baginya. Ia belajar tentang tanggung jawab, ketepatan, kedisiplinan, kerja sama, serta arti penting menghormati simbol negara.
Syahraini mengaku merasa haru dan bangga ketika menjalankan tugas tersebut.
“Rasanya sangat haru dan bangga. Saat membawa baki, saya teringat perjuangan orang tua, guru, dan para pahlawan. Saya ingin terus belajar dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya.
Prestasi Syahraini menjadi kebanggaan tersendiri bagi MA Putri DDI Mangkoso. Dari lingkungan pesantren, seorang santri penghafal Al-Qur’an mampu tampil di tingkat provinsi dan dipercaya membawa baki Bendera Merah Putih.
Kepala dan para pembina madrasah berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk terus mengembangkan potensi, baik dalam bidang keagamaan, pendidikan maupun kegiatan kebangsaan. Prestasi Syahraini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda agar berani mengambil kesempatan dan tidak takut bermimpi besar.
Kisah Syahraini sekaligus menjadi pesan bahwa pendidikan agama dan nasionalisme dapat berjalan beriringan. Santri dapat menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus aktif dalam kegiatan kebangsaan dan memiliki cita-cita untuk mengabdi kepada negara.
Langkah Syahraini di hadapan para pejabat dan masyarakat Sulawesi Selatan pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi simbol bahwa dari pesantren dapat lahir generasi muda yang religius, disiplin, berprestasi, dan mencintai tanah air.
Dari Mangkoso, Syahraini membawa satu pesan sederhana: menjadi santri bukanlah batas untuk bermimpi. Dengan ilmu, doa, disiplin, dan kerja keras, seorang santri pun mampu berdiri tegak membawa kehormatan Merah Putih.

Komentar