Herdiman Tabi pada NEWS
8 Mei 2026 07:27 - 2 menit reading

Kalpataru Nasional 2026: Nama Rasyid Ridha Masuk Deretan Perintis Lingkungan Indonesia

Barru — Prestasi membanggakan kembali datang dari Sulawesi Selatan. Rasyid Ridha, penggerak lingkungan asal Kabupaten Barru, resmi masuk dalam daftar 7 calon penerima Penghargaan Kalpataru Adya & Yuvan 2026 kategori Perintis Lingkungan tingkat nasional yang diumumkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Penghargaan Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi pemerintah Indonesia di bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada individu maupun kelompok yang dinilai memiliki dedikasi dan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Rasyid Ridha terpilih berkat inovasi pengelolaan limbah organik berbasis FABA (Fly Ash Bottom Ash) yang dikembangkan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Program tersebut mengintegrasikan pengurangan pencemaran, pengolahan limbah organik, hingga pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.Sejak tahun 2020,

ia membangun sistem pengelolaan limbah terpadu mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan menjadi pupuk organik. Limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai diolah melalui proses fermentasi dan dipadukan dengan limbah batubara/FABA dari Indonesia Power PLTU Barru.Program ini kini mampu mengolah sekitar ±10 ton limbah organik per bulan dan melibatkan lebih dari 1.000 mitra masyarakat.

“Pengelolaan sampah harus mampu memberi solusi lingkungan sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu kami membangun sistem yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat secara langsung,” ujar Rasyid Ridha.

Masuknya nama Rasyid Ridha dalam jajaran 7 calon nasional kategori Perintis Lingkungan menjadi pencapaian penting bagi Sulawesi Selatan. Inovasi yang dikembangkan dinilai memiliki dampak nyata terhadap pengurangan limbah, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan limbah industri secara bertanggung jawab.

Selain Rasyid Ridha dari Sulawesi Selatan, calon lainnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan fokus gerakan lingkungan yang beragam, mulai dari konservasi mangrove, pengelolaan sampah nol residu, pelestarian kawasan hutan, hingga gerakan literasi lingkungan.

Tahapan selanjutnya akan memasuki proses verifikasi lapangan dan penilaian nasional sebelum pemerintah menetapkan penerima resmi Penghargaan Kalpataru 2026 dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.