Beranda / NEWS / Merawat Nalar di Bulan Suci: Literasi Numerasi Akhir Pekan Bersama Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”

Merawat Nalar di Bulan Suci: Literasi Numerasi Akhir Pekan Bersama Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”


AK77NEWS.COM-GOWA- Kegiatan literasi numerasi digelar pada Hari Ahad, 1 Maret 2026, di Ujung Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa. Kegiatan ini berlangsung di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”, sebuah teras literasi yang berada di bawah naungan Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia. Pada akhir pekan Ramadan telah rutin dilalui dengan suasana santai, anak-anak dusun justru memanfaatkan waktu mereka untuk berkumpul, belajar, dan merawat semangat pengetahuan di ruang sederhana yang penuh kehangatan itu.


Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama. Suasana terasa khidmat ketika para peserta melantunkan ayat-ayat suci sebelum memulai sesi pembelajaran. Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi pengantar spiritual yang menegaskan bahwa kegiatan belajar di bulan Ramadan tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan ketenangan batin serta memperkuat nilai-nilai keimanan dalam proses pendidikan.


Setelah itu, anak-anak diajak menyusuri dunia angka dan logika melalui kegiatan literasi numerasi yang dikemas secara hangat, akrab, dan menyenangkan. Angka-angka tidak lagi terasa kaku sebagaimana yang sering dibayangkan dalam ruang kelas formal, melainkan hadir sebagai bahasa berpikir yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui pendekatan yang komunikatif, para peserta diajak memahami bahwa belajar dapat menjadi pengalaman yang hidup, penuh rasa ingin tahu, sekaligus menyenangkan.


Kegiatan ini dipandu oleh dua mentor yang berbagi pengetahuan dan pengalaman, yakni Kartini, mahasiswa Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta Dzul Rajali, pendidik dari SDIT MICI Kabupaten Gowa. Kehadiran keduanya memberi warna tersendiri dalam proses pembelajaran melalui diskusi ringan, permainan edukatif, dan latihan-latihan sederhana yang memantik daya pikir anak-anak.

Tawa kecil yang sesekali pecah di sela-sela kegiatan menjadi tanda bahwa ruang literasi itu hidup oleh semangat belajar yang tumbuh secara alami.
Bagi para mentor, kegiatan ini bukan sekadar mengajarkan hitungan.

Kartini menilai bahwa literasi numerasi merupakan ruang belajar yang sederhana namun sarat makna, karena numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga melatih cara berpikir yang runtut dan logis dalam memahami kehidupan sehari-hari. Ia mengaku senang melihat antusiasme anak-anak yang menunjukkan bahwa proses belajar dapat tumbuh dengan alami ketika disajikan melalui pendekatan yang hangat dan menyenangkan.


Sementara itu, Dzul Rajali menambahkan bahwa suasana Ramadan memberi nuansa tersendiri dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, belajar di bulan suci tidak hanya menjadi upaya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari latihan kedisiplinan, kesabaran, dan semangat untuk terus mencari ilmu dan mengembangkan kreatifitas.


Abdul Rauuf Muri selaku Ketua Taman Baca dan Perpustakaan Dusun “Moncongna Ikatuo” memandang kegiatan ini sebagai langkah sederhana untuk menjaga nyala pengetahuan tetap hidup di lingkungan dusun. Menurutnya, taman baca bukan sekadar tempat buku disusun rapi di rak, melainkan ruang perjumpaan gagasan, tempat anak-anak belajar merawat rasa ingin tahu, menumbuhkan keberanian berpikir, dan membangun kepercayaan diri. Di ruang sederhana itu, angka-angka tidak hanya diajarkan sebagai hitungan, tetapi juga sebagai jalan untuk melatih nalar dan memahami kehidupan.
Pandangan yang senada disampaikan Sumarlin Rengko HR, Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia.

Ia menuturkan bahwa gerakan literasi tidak selalu tumbuh dari ruang-ruang besar yang serba formal, tetapi sering kali bersemi dari tempat-tempat sederhana yang dirawat dengan kepedulian dan ketulusan. Melalui kegiatan ini, yayasan berupaya menumbuhkan kembali tradisi belajar di tengah masyarakat serta menjadikan taman baca sebagai ruang kebudayaan tempat pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan semangat kebersamaan saling menguatkan.


Menjelang senja, ketika waktu berbuka kian mendekat, kegiatan pun ditutup dengan suasana hangat penuh kebersamaan.

Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia membagikan menu buka puasa kepada para peserta untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Momen sederhana itu menghadirkan pesan yang dalam: bahwa belajar bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang berbagi kebaikan dan merawat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.


Di antara para peserta, Muh. Arif, siswa dari SDN Kampong Parang, mengaku merasa senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia menikmati suasana belajar yang akrab, di mana berhitung dapat dilakukan melalui permainan dan diskusi bersama teman-temannya.

Baginya, kegiatan di taman baca membuat akhir pekan Ramadan terasa lebih hidup dan bermakna. Dari ruang kecil di Moncongna Ikatuo itu, anak-anak pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman belajar—mereka membawa cerita, harapan, dan cahaya pengetahuan yang perlahan menyala dalam langkah masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *