Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / ANDI INA AUDIENSI KE KEMENPAREKRAF, BARU TIDAK MAU LAGI JADI DAERAH LINTASAN

ANDI INA AUDIENSI KE KEMENPAREKRAF, BARU TIDAK MAU LAGI JADI DAERAH LINTASAN

JAKARTA, http://AK77News.com – Pemerintah Kabupaten Barru serius mengubah citra dari daerah lintasan menjadi destinasi wisata unggulan. Tekad itu mendapat respons positif Kementerian Pariwisata RI dalam audiensi Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu 10/6/2026.

Bupati didampingi Sekda Barru A. Syarifuddin, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan dan Olahraga, serta jajaran Pemkab Barru. Audiensi menjadi ruang pemaparan potensi, tantangan, dan arah pembangunan pariwisata Barru yang kini jadi prioritas daerah.

Tagline “Singgah di Barru” Jadi Kunci
Dalam pertemuan, Wamen Ni Luh Puspa menekankan pentingnya promosi digital. Kemenpar tengah mengembangkan AI bernama “Maya” sebagai asisten digital promosi wisata Indonesia.

“Kalau nanti orang bertanya kepada Maya, ‘Kalau ke Sulawesi Selatan sebaiknya ke mana?’, kenapa tidak Barru yang muncul pertama? Daerah perlu aktif memberikan data agar potensi wisatanya dikenal lebih luas,” ujar Wamen.

Perkuat Kapasitas Legislator, Anggota DPRD Barru Partai Demokrat Hadiri Bimteknas Nasional

Menjawab itu, Andi Ina menggaungkan tagline “Singgah di Barru”. Selama ini Barru identik sebagai lintasan ke Parepare dan Toraja.

“Untuk membuat orang singgah, kita harus menyiapkan alasan mengapa mereka harus berhenti dan menikmati Barru. Langkah awal kami benahi wajah kota dan penerangan jalan. Dulu Barru gelap di malam hari, sekarang sudah terang dan hidup,” kata Bupati perempuan pertama Barru itu.

Potensi 3 Dimensi: Gunung, Rimba, Laut
Andi Ina memaparkan Barru punya konsep wisata tiga dimensi: pegunungan, daratan, dan laut yang tersebar di 7 kecamatan. Keunggulannya diperkuat Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional GURILA: Gunung, Rimba, Lembah dan Laut.

“Barru punya garis pantai 78 kilometer, pegunungan indah, kawasan lembah dan hutan. Ini modal besar untuk pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Dua destinasi disorot dalam audiensi:

Bupati Barru Terima 362 Mahasiswa KKN Tematik UNHAS, Dorong Inovasi Desa dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat

  1. Pulau Panikiang, Balusu: Ekosistem mangrove yang jadi habitat ribuan kelelawar dan burung bangau hidup berdampingan. Sekda A. Syarifuddin menyebutnya punya daya tarik ekowisata kelas internasional.
  2. Lappa Laona: Dataran tinggi 1.000 mdpl dengan padang hijau luas, dijuluki “Lolai-nya Barru”. Pemkab ingin mengembangkannya sebagai ekowisata terpadu, peternakan sapi perah, agrowisata, dan edukasi lingkungan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.


Bupati juga memaparkan wisata sejarah: sosok Colliq Pujié penyelamat naskah epik dunia I La Galigo, Desa Wisata Nepo kampung kecil BJ Habibie, dan Desa Wisata Paccingke tempat lahirnya TNI di Sulsel.

“I La Galigo sudah mendunia. Harus dipromosikan lebih kuat. Bisa dibuat paket wisata, pertunjukan budaya hingga jejak sejarah,” kata Ni Luh Puspa.
Pemkab Barru menyampaikan tantangan fiskal dan infrastruktur menuju destinasi. Namun Kemenpar melihat Barru strategis: dekat Bandara Sultan Hasanuddin, dilintasi Kereta Api Trans Sulawesi, dan berada di koridor destinasi unggulan Sulsel.

Kemenpar membuka kolaborasi dengan Poltekpar Makassar untuk pendampingan Pokdarwis, pelatihan paket wisata, digital marketing, dan peningkatan SDM.

Menutup audiensi, Andi Ina menyebut pertumbuhan ekonomi Barru naik dari 4,93% di 2024 menjadi 5,16% di 2025.

“Harapan kami sederhana: Barru tidak lagi hanya dilewati, tapi menjadi daerah yang dicari dan dikunjungi. Dengan dukungan Kemenpar dan potensi yang ada, kami optimistis Barru jadi destinasi unggulan di Sulsel bahkan Indonesia,” pungkasnya.

Wabup Barru Buka Rakor OPLA 2026, Tegaskan Bantuan Rp9,9 Miliar Harus Dikelola Transparan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *