
AK77NEWS.COM – Sore Pukul 15.30 sampai dengan pukul 17.30 Wita pada hari Ahad 15 Maret 2026, Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa, diselimuti suasana yang berbeda dari biasanya. Sejumlah anak berkumpul di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” untuk mengikuti kegiatan literasi pada Ahad penutup Ramadan. Dalam ruang sederhana itu, mereka duduk bersahaja dan ceria, menulis dan saling berbagi kisah tentang pengalaman Ramadan yang hampir mencapai ujungnya.
Kegiatan yang digagas oleh Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” ini menjadi penutup rangkaian aktivitas literasi selama bulan Ramadan. Melalui kegiatan menulis pengalaman bertema Ramadan, anak-anak diajak merekam jejak cerita mereka sendiri, menumbuhkan keberanian untuk mengungkapkan pikiran, sekaligus merawat kebiasaan literasi sejak dini. Di penghujung Ramadan, ruang kecil di Ujung Dusun Palanngiseng itu kembali menjadi tempat anak-anak menenun kenangan melalui kata-kata dan cerita.
Kegiatan literasi tersebut diinisiasi oleh Abdul Rauuf Muri, Ketua Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”. Ia merupakan mahasiswa semester akhir pada Departemen Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Berangkat dari kepeduliannya terhadap ruang belajar anak-anak di lingkungan sekitar, ia berupaya menghidupkan kembali denyut literasi di Dusun Palangngiseng melalui kegiatan-kegiatan sederhana yang dekat dengan keseharian mereka. Pada pertemuan Ahad penutup Ramadan ini, muatan materi yang diberikan adalah menulis pengalaman sehari penuh di bulan Ramadan, mulai dari sahur hingga momen berbuka puasa bersama keluarga. Dari pengalaman yang mereka alami sendiri, anak-anak diajak menuangkannya ke dalam tulisan sederhana yang sarat makna.
Menurut Abdul Rauuf Muri, kegiatan menulis pengalaman tersebut menjadi cara yang hangat untuk mengajak anak-anak mengenal dunia literasi. Dari kisah sahur yang masih mengantuk, menjalani puasa sepanjang hari, hingga kebersamaan saat berbuka puasa bersama keluarga, semua menjadi cerita yang lahir dari ingatan mereka sendiri. Ia meyakini bahwa dari cerita-cerita sederhana itu tumbuh keberanian untuk mengekspresikan diri sekaligus menanamkan kecintaan terhadap literasi sejak dini. Di penghujung Ramadan, kebersamaan di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” menjelma menjadi ruang kecil tempat anak-anak merajut pengalaman, menyimpan kenangan, dan menuliskannya menjadi kisah yang akan selalu mereka ingat.
Muhammad Jalil, siswa kelas 4 SD Kampung Parang Pallangga, mengaku sangat senang dapat mengikuti kegiatan literasi di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”. Mewakili sekitar dua puluh peserta yang hadir, ia menyampaikan bahwa kegiatan menulis pengalaman Ramadan—mulai dari sahur hingga berbuka puasa bersama keluarga—memberi kesempatan bagi mereka untuk menceritakan kembali kisah-kisah sederhana yang dialami sepanjang hari.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut ia dan teman-temannya belajar menuliskan cerita dengan lebih percaya diri, sekaligus merasakan kebersamaan yang hangat saat berkumpul dan berbagi kisah di ruang literasi kampung mereka.
Di tempat terpisah, Gr. Akbar Amri, S.S., S.Pd., M.Si., selaku Pengurus Harian Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan literasi yang terus dihidupkan di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”.
Menurutnya, ruang-ruang belajar sederhana seperti ini memiliki peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah masyarakat. Ia menilai bahwa kegiatan menulis pengalaman Ramadan yang dilakukan anak-anak bukan sekadar aktivitas belajar, tetapi juga proses menumbuhkan kepekaan, imajinasi, serta keberanian untuk mengekspresikan pikiran melalui cerita.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia, Sumarlin Rengko HR, yang akrab disapa Daeng Rengko, berharap kegiatan literasi yang tumbuh dari lingkungan masyarakat seperti ini dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas. Ia menuturkan bahwa pengalaman sederhana yang dituliskan anak-anak hari ini adalah benih kecil bagi tumbuhnya generasi yang mencintai literasi dan bergaul. Baginya, setiap cerita yang lahir dari ruang-ruang belajar di kampung merupakan tanda bahwa semangat belajar dan berkarya masih terus menyala di tengah masyarakat.
Menutup kegiatan Ahad penutup Ramadan itu, suasana hangat masih terasa di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”. Tawa anak-anak, cerita-cerita sederhana yang mereka tuliskan, serta kebersamaan sepanjang kegiatan menjadi penanda bahwa ruang kecil di tengah kampung itu telah menjadi tempat tumbuhnya harapan dan semangat literasi.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian menu buka puasa yang disediakan oleh Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia, sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian di penghujung Ramadan. Dari Dusun Palangngiseng, semangat kecil itu terus berdenyut, menyimpan harapan agar kebiasaan menulis, membaca, dan bercerita tetap hidup dan tumbuh di tengah kehidupannya.