Herdiman Tabi pada PENDIDIKAN
10 Mar 2026 10:56 - 3 menit reading

Ahad Penuh Makna: Anak-Anak Dusun Palangngiseng Menulis Kisah Puasa di Teras Literasi


Gowa AK77NEWS.COM— Rintik hujan yang turun pada Ahad sore, 8 Maret 2026, tidak menyurutkan semangat anak-anak di Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa. Dengan payung di tangan, mereka tetap bergegas menuju Sekretariat Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” Indonesia untuk mengikuti kegiatan literasi Ramadan.


Kegiatan yang berlangsung di teras literasi tersebut mengusung tema “Pengalaman Puasaku, Ramadanku Semangatku.

” Anak-anak diajak menuliskan pengalaman mereka menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Dari kisah sahur bersama keluarga, perjuangan menahan lapar dan dahaga, hingga kebahagiaan menanti waktu berbuka, berbagai cerita sederhana lahir dari tangan-tangan kecil yang penuh semangat.
Suasana kegiatan berlangsung hangat meski diiringi hujan yang turun perlahan. Tawa, semangat, dan suara goresan pena di atas kertas membuat teras literasi itu terasa hidup. Anak-anak belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga cara mengabadikan pengalaman dan menyimpan kenangan.
Kegiatan ini dipandu oleh Abdul Rauuf Muri, Ketua Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” Indonesia.

Ia mendampingi anak-anak dalam menuangkan pengalaman puasa mereka melalui tulisan.
Menurut Abdul Rauuf Muri, menulis pengalaman merupakan langkah sederhana yang memiliki makna besar dalam proses belajar anak-anak.


“Ketika anak-anak menuliskan pengalaman puasanya, mereka sebenarnya sedang belajar memahami nilai-nilai Ramadan, seperti kesabaran, kebersamaan keluarga, dan rasa syukur atas nikmat yang sering dianggap sederhana,” ujarnya.


Ia juga menambahkan bahwa kegiatan menulis seperti ini dapat menjadi pintu awal untuk menumbuhkan kebiasaan literasi sejak dini. Melalui cerita sederhana yang mereka tuliskan, anak-anak belajar mengekspresikan pikiran serta membangun keberanian untuk bercerita tentang dunia yang mereka alami.


Dalam kegiatan tersebut, satu per satu anak maju membacakan tulisan mereka di depan teman-temannya. Meski suara mereka terkadang masih lirih, kisah yang dibacakan mengalir jujur dan mengundang senyum serta tawa dari peserta lainnya.


Cerita tentang sahur yang diselimuti rasa kantuk, siang hari yang terasa panjang saat menahan lapar, hingga kebahagiaan menanti azan magrib bersama keluarga menjadi gambaran sederhana bagaimana Ramadan dirasakan dari sudut pandang anak-anak.


Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia, Sumarlin Rengko HR, yang turut menutup kegiatan tersebut berharap kegiatan literasi seperti ini dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak.


Ia menilai pengalaman sederhana yang dituliskan anak-anak hari ini merupakan langkah kecil yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri sekaligus memperkuat kecintaan mereka terhadap budaya membaca dan menulis


Kegiatan sore itu kemudian ditutup dengan penuh kehangatan saat anak-anak menerima kudapan untuk berbuka puasa.

Dengan wajah ceria, mereka membawa pulang kudapan tersebut untuk dinikmati bersama keluarga saat waktu berbuka tiba.


Di tengah rintik hujan yang masih turun perlahan, senyum dan tawa anak-anak menjadi penutup sederhana namun penuh makna bagi perjalanan literasi pada Ahad ketiga Ramadan di Dusun Palangngiseng.