Mashur Razak – Fasilitator BCKS BBGTK Sulsel
Sebagai Fasilitator Pelatihan BCKS salah satu materi pelatihan yang wajin diberikan kepada Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) adalah Keteladanan Kepala Sekolah. Materi ini sangat urgen dipamahami oleh seorang Kepala Sekolah, khususnya dalam menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin. Materi ini relevan dengan satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menjalankan peran sebagai seorang pemimpin yaitu Lead By Example atau kepemimpinan dengan memberi contoh.
Secara akademis, pendekatan ini juga terintegrasi dalam teori kepemimpinan yang lebih luas, seperti Teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership) yang dikembangkan oleh James MacGregor Burns dan Bernard M. Bass, di mana salah satu pilar utamanya adalah Idealized Influence yaitu kemampuan pemimpin untuk menjadi panutan (role model) yang berintegritas tinggi bagi bawahannya.
Kepemimpinan kepala sekolah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola administrasi dan program sekolah, tetapi juga kemampuan menjadi teladan bagi guru, murid, tenaga kependidikan, dan orang tua.
Keteladanan merupakan bagian penting dari kompetensi kepribadian kepala sekolah yang tercermin melalui kematangan moral, emosional, dan spiritual. Kepala sekolah harus menunjukkan integritas, kejujuran, kedisiplinan, keadilan, transparansi, empati, serta konsistensi antara nilai yang diyakini dengan tindakan nyata.
Selain itu kematangan emosional diperlukan agar kepala sekolah mampu menghadapi tekanan dan konflik secara tenang, mendengarkan berbagai pihak, serta mengambil keputusan secara objektif dan tidak impulsif. Sementara itu, kematangan spiritual tercermin melalui kebijaksanaan, kerendahan hati, kepedulian, penghargaan terhadap keberagaman, dan kesediaan untuk terus belajar.
Keteladanan juga harus berorientasi pada kebutuhan murid. Kebijakan sekolah perlu mendukung pengembangan karakter secara holistik melalui pembelajaran, literasi, kedisiplinan, kegiatan sosial, toleransi, dan pembiasaan positif. Kepala sekolah juga perlu melakukan refleksi diri dan terbuka terhadap umpan balik agar kepemimpinannya terus berkembang. Pada akhirnya, keteladanan harus berkembang menjadi budaya sekolah.
Kepala sekolah tidak cukup memerintahkan perubahan, tetapi harus menjadi contoh perubahan itu sendiri. Ketika nilai positif dilakukan secara konsisten, keteladanan akan melahirkan kepercayaan, membangun komitmen, menciptakan pembiasaan, dan akhirnya membentuk budaya sekolah yang positif, harmonis, dan berkarakter. (Makassar, 30 Agutus 2026)

Komentar