
AK77NEWS.COM – Ahad, 22 Februari 2026, Sore di Ujung Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, Gowa, terasa lebih hidup dari biasanya. Dari Teras Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”, suara anak-anak berpadu dengan lantunan ayat suci dan riuh tawa yang bersahaja. Mereka duduk melingkar, sebagian menggenggam buku bacaan, sebagian lagi membuka mushaf Al-Qur’an, mengikuti rangkaian Giat Ramadan yang dikemas hangat dan membumi. Di ruang sederhana itu, literasi dan spiritualitas dipertemukan dalam suasana kekeluargaan yang akrab dan penuh makna.
Kegiatan ini dimotori oleh Kartini, mahasiswa Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, bersama Dzul Rajali, guru SDIT Al Basit Yayasan MICI Gowa. Keduanya menghadirkan pendekatan yang tidak menggurui, melainkan merangkul. Anak-anak diajak membaca, bertadarus, lalu berdiskusi tentang arti berbagi, disiplin, dan kepedulian sosial di bulan suci. Dialog kecil yang tercipta di antara mereka menjadikan Ramadan tidak sekadar ritual tahunan, tetapi pengalaman belajar yang menyentuh nalar sekaligus nurani.
Melalui Giat Ramadan ini, Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” kembali menegaskan fungsinya sebagai ruang tumbuh generasi muda dusun—ruang yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menanamkan nilai. Teras yang sederhana itu menjelma menjadi pusat cahaya kecil di sudut kampung, tempat anak-anak belajar merawat ilmu dan iman secara bersamaan. Di tengah keterbatasan, semangat berbagi dan belajar terus menyala, menghadirkan harapan bagi masa depan yang lebih berdaya dan berkarakter.
Kartini memandang taman baca bukan sekadar ruang menyimpan buku, melainkan ruang merawat kesadaran. Baginya, Ramadan adalah momentum pedagogis yang istimewa—bulan ketika hati anak-anak lebih terbuka dan nilai-nilai kebaikan lebih mudah bersemi. Ia meyakini literasi dan spiritualitas harus berjalan beriringan; membaca tidak hanya melatih kemampuan memahami teks, tetapi juga menuntun seseorang menafsir kehidupan. Melalui kegiatan sederhana di teras “Moncongna Ikatuo”, ia berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mengasah nalar, menenangkan batin, sekaligus menumbuhkan empati sosial.
Sebagai mahasiswa Sastra Daerah Unhas, Kartini melihat penguatan literasi di dusun sebagai bentuk pengabdian nyata ilmu yang ia pelajari. Ia percaya anak-anak kampung memiliki potensi besar, selama mereka diberi ruang aman untuk tumbuh dan belajar. Dengan pendekatan dialogis, ia menanamkan keberanian untuk bertanya dan berdiskusi, karena dari kebiasaan kecil itulah karakter kritis, santun, dan berdaya akan lahir. Bagi Kartini, berbagi ilmu di bulan suci bukan sekadar kegiatan sukarela, melainkan ikhtiar kecil yang kelak akan menerangi masa depan masyarakat dengan cahaya pengetahuan.
Dzul Rajali memaknai Giat Ramadan di Teras “Moncongna Ikatuo” sebagai gerak senyap yang menyemai perubahan kecil di tengah dusun. Baginya, pendidikan tidak selalu lahir dari bangku dan papan tulis, melainkan dari perjumpaan hangat yang menghadirkan keteladanan dan ketulusan. Di ruang sederhana itulah, menurutnya, membaca dan menulis menjelma lebih dari sekadar aktivitas rutin, ia menjadi proses pembentukan jiwa, melatih disiplin, menumbuhkan rasa percaya diri, serta merajut kebersamaan di antara anak-anak. Dzul meyakini, ketika literasi dirawat dengan cinta dan konsistensi,
ia akan berakar kuat, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam pengetahuan, tetapi juga matang dalam akhlak dan peka terhadap denyut kehidupan di sekitarnya.
Sumarlin Rengko, Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatyo Indonesia, memaknai Giat Ramadan di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” sebagai denyut kerja kebudayaan yang tumbuh dari rahim masyarakat sendiri. Baginya, literasi bukan sekadar kecakapan membaca huruf, melainkan proses memanusiakan manusia, menguatkan ingatan, membentuk watak, dan meneguhkan identitas.
Ia melihat anak-anak yang duduk melingkar membaca dan berdiskusi di teras sederhana itu sebagai tanda tumbuhnya kesadaran budaya dan tanggung jawab sosial sejak dini. Menurut Daeng Rengko, keyakinannya, gerakan kecil yang dirawat dengan ketulusan semacam inilah yang akan menjaga cinta pengetahuan, supaya tetap hidup di tengah arus zaman, menumbuhkan generasi yang berakar kukuh pada nilai kemanusian.
Andi Padauleng, peserta didik SDN Kampung Parang, menuturkan kebahagiaannya dengan wajah berbinar saat mengikuti kegiatan di Teras “Moncongna Ikatuo”. Baginya, sore itu terasa istimewa karena ia tidak sekadar membaca, tetapi juga belajar menyampaikan pendapat serta mendengar cerita dari teman-temannya. Ia merasakan suasana yang hangat dan menyenangkan, membuatnya lebih berani bertanya dan lebih percaya diri berbicara di hadapan yang lain. Pada’ berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut, sebab selain menambah pengetahuan, ia merasakan tumbuhnya semangat belajar dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tengah kebersamaan yang penuh makna.
Sebagai penutup rangkaian Giat Ramadan sore itu, suasana kebersamaan semakin terasa hangat dengan pembagian menu buka puasa yang disediakan oleh Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo. Paket hidangan sederhana tersebut dibagikan kepada seluruh peserta untuk dibawa pulang dan dinikmati di rumah. Momen ini bukan sekadar berbagi makanan, melainkan juga berbagi kepedulian dan kebahagiaan di bulan suci. Dengan langkah kecil namun penuh makna itu, kegiatan pun berakhir dalam nuansa syukur dan harapan, meninggalkan kesan mendalam bagi anak-anak dan seluruh penggerak literasi di Teras “Moncongna Ikatuo”