
AK77NEWS.COM, BARRU – Gema Hari Pahlawan 10 November terus digaungkan, ditengah Indonesia masih berjuang untuk dapat memproduksi vaksin COVID-19 secara mandiri. Dibalik Covid-19 dan upaya menemukan Vaksin ini, ada orang-orang yang memiliki andil besar dalam rangkaian semangat juang kepahlawanan.
Sudah 223 hari sejak dibukanya Posko Induk dan Media Center Satgas Covid-19 Kabupaten Barru, sejak itupula Sekretariat Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Barru yang digawangi oleh Darwis menjadi bagian penting Perang Barru melawan Covid-19. Rabu (11/11/2020).
Darwis mendapatkan akses khusus untuk kordinasi langsung dengan semua Pilar Pemangku Kebijakan serta Fasilitasi Sarana sebagai bentuk kesatuan sinergi demi kemaslahatan bersama.
Darwis yang merupakan aktifis kemanusiaan berpengalaman dan pernah selama berbulan-bulan menjadi yang terdepan di Bencana Gempa dan Likuifaksi Palu tahun lalu.
Pria yang berdomisili di Dusun Buludua, Desa Balusu ini, dalam aktifitas normalnya berkantor disalah satu ruangan Bappeda Kabupaten Barru sebagai konsultan beberapa program salah satunya adalah ODF (Open Defecation Free) dan yang terbaru adalah Program Madani untuk peningkatan kapasitas, legitimasi dan keberlanjutan organisasi masyarakat sipil di Daerah.
Namun, sejak Pandemic Covid-19 menjadi penanganan dan memerlukan upaya khusus untuk pencegahan penyebaran di Daerah, ia diminta kesediaannya menjadi leader dalam administrasi di Sekretariat Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Barru.
“Kepercayaan yang diberikan dalam mengelola Sekretariat Satgas menjadi sebuah tantangan tersendiri berkaloborasi dengan Governmant, CSO, Media, Comunitas dan Private Sector menjadi pengalaman tersendiri dalam menangani respons Covid19, semoga menjadi amal ibadah di setiap perbuatan untuk kebaikan” harap Pria yang selalu nampak bersemangat ini.
Di level nasional, diantaranya adalah Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro.
Perempuan kelahiran Solo, 14 Mei 1946 ini, mulai akrab dengan vaksin sejak dia bergelut dengan penyakit infeksi pada anak-anak. Baginya, kesehatan anak adalah ilmu tersulit dalam kedokteran. Alasannya sederhana, bayi dan anak-anak sulit untuk ditanya sehingga dokter punya tantangan tersendiri dalam memberikan diagnosis.
Perjalanan Prof. Sri dalam memperjuangkan imunisasi semakin matang setelah dirinya didapuk sebagai Ketua Satgas Imunisasi dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan menjadi Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) sampai saat ini. Sejak awal, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Indonesia ini menyadari bahwa permasalahan kesehatan anak-anak Indonesia cukup besar. Kesadaran tentang betapa pentingnya vaksin semakin terpupuk setelah dirinya pindah tugas ke Jakarta dan merintis program karang balita, yang kemudian bertransformasi menjadi posyandu.
Bagi Prof. Sri, vaksinasi atau imunisasi merupakan standar kesejahteraan sebuah negara. Cakupan vaksinasi yang luas, memberi gambaran sejauh mana negara tersebut maju- baik secara ekonomi atau sosialnya.
Dalam upaya pencegahan penyakit, Prof. Sri menyebutkan ada dua aspek dasar yang harus dipenuhi oleh negara: air bersih yang merata dan imunisasi. Menurutnya, Saat dua hal ini bisa disediakan oleh negara, maka 70 persen masalah kesehatan anak terkait infeksi dapat diatasi.